Telur Para Pialang

Tahun 1996 silam, ketika saya baru pertama kali mencoba bermain saham, seorang pialang (yang saya lupa namanya) mengatakan kepada saya prinsip dasar investasi di pasar modal. “Investasi di pasar modal memiliki risiko. So don’t put your eggs into one basket.” Maksudnya, jika ingin menghindari risiko, lakukan diversifikasi portofolio. Sehingga ketika salah satu portofolio jatuh, masih ada sisa dana di instrument investasi lainnya.

Nasihat yang sama juga kerap saya dengar dari puluhan bahkan mungkin ratusan analis yang gemar menghiasi halaman ekonomi di koran-koran. Saya kagum, mereka bisa begitu pintar mengutak-atik portofolio investasi. Entah berapa miliar rupiah uang yang mereka hasilkan dari kepintaran itu. Karenanya, nasihat mereka itu saya pegang teguh hingga saat ini. Dan ternyata nasihat tadi betul-betul manjur. Setidaknya saya beberapa kali merasakan untung yang lumayan dari aktivitas investasi yang saya lakukan.

Namun sayangnya, dua bulan terakhir kepercayaan saya pada nasihat para pialang dan analis yang necis bin klimis itu perlahan luntur. Saya menemukan kenyataan menyedihkan bahwa nasihat-nasihat mereka hanya sebatas di bibir belaka. Prinsip “Don’t put your eggs into one basket” secara gamblang mereka lupakan.

Mereka menaruh seluruh “telur” investasinya di dalam satu “keranjang” portofolio saham berkode BUMI. Sialnya keranjang “BUMI” itu kemudian jatuh, dan “telur-telur” investasi para pialang dan analis itu pun pecah berantakan. Lucunya mereka kemudian berteriak ke Bakrie&Brothers, penjual keranjang “BUMI” , meminta agar sang penjual membeli telur-telur pecah milik mereka. “Kami membeli keranjang anda, karena anda menjamin akan membeli telur-telur kami jika keranjangnya jatuh atau rusak. Jadi sekarang anda harus membeli telur-telur kami,” mungkin begitu kira-kira keluhan mereka.

Si penjual keranjang tak mau kalah gertak dan mengatakan ”Keranjang saya sudah membuat kamu kaya, makan enak tiap hari, beli mobil baru, dapat komisi ratusan juta. Sekarang ketika keranjang saya rusak, kami minta bertanggung jawab,” gertak si penjual keranjang. Cerita penjual dan pembeli keranjang ini belum berakhir hingga saat ini. Bahkan beredar rumor yang kencang, yang menyebutkan, si penjual dan pembeli sudah sama-sama hampir bangkrut.

Dari ironi tersebut setidaknya ada dua pelajaran yang bisa dipetik oleh masyarakat awam seperti saya. Pertama pahami pasar modal secara mendalam, sebelum anda menjadi investor. Tujuannya agar anda tidak mudah terbawa rumor dan tergoda keuntungan besar. Kedua, ketahuilah kalau para analis dan pialang pun tidak sepintar yang anda kira. Jadi pikirkan dulu saran mereka dan jangan telan mentah-mentah.

Jadilah investor yang cerdas dan pegang prinsip ”don’t put your eggs into one basket” dengan teguh.

Bank Century Salah Urus, BI Memperparah?

Kasus Bank Century adalah cermin dari buruknya manajemen perbankan yang diterapkan oleh manajemen Bank tersebut dan lemahnya pengawasan Bank Indonesia (BI) terhadap industri perbankan nasional. Indikator dari keadaan itu antara lain adalah peristiwa gagal kliring yang dialami oleh Bank Century pada 12 November 2008 silam. Ketika itu manajemen Century berdalih bahwa kegagalan kliring tersebut, akibat kendala teknis yang mengakibatkan penyetoran ke sistem kliring BI terlambat sekian menit saja. Alasan yang mengesankan Bank Century baik-baik saja.

Padahal jika masyarakat kritis, seharusnya patut dipertanyakan bagaimana mungkin bank yang dalam laporan per 30 September 2008 mengklaim memiliki aset Rp15,231 triliun itu bisa mengalami kendala teknis. Apalagi mereka bukanlah pemain baru di industri perbankan Indonesia. Jangan lupa jika Bank Century merupakan pionir dari sebuah proses merger perbankan nasional yang natural dan tidak dipaksakan. Bank Century adalah gabungan dari tiga bank swasta skala menengah, Bank CIC, Bank Pikko, dan Bank Danpac, yang secara sukarela melakukan merger pada 2004 lalu. Dengan kata lain, keterlambatan yang dijadikan alasan oleh manajemen Bank Century adalah sebuah kekonyolan profesionalisme dan kelalaian prosedur atas kewajiban yang sifatnya harian.

Tak ada kelanjutan, dan pertanyaan dari kisah tadi. BI tidak memberikan penjelasan apa-apa tentang kondisi Bank Century yang sebenarnya. Publik kemudian malah disibukkan oleh kisah perburuan dan penangkapan ala teroris terhadap seorang pialang dari Bahana Securities Erick Ardiansjah, yang diduga menyebarkan rumor kesulitan likuditas lima bank nasional. Dan selintas pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengatakan Bank Century dalam proses akusisi oleh PT Sinar Mas Multiartha Tbk.

Lalu seminggu kemudian, tepatnya 21 November 2008 masyarakat tersentak. Pemerintah melalui Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) menyatakan mengambilalih manajemen Bank Century. Diungkapkan pula Bank Century mengalami kesulitan likuidtas akibat penurunan nilai asetnya. Kejadian semacam ini adalah yang pertama kalinya terjadi dalam kurun satu dekade terakhir. Terkahir kali peristiwa serupa terjadi pada 1998 silam, ketika industri perbankan nasional tumbang dan Indonesia didera krisis ekonomi hebat.

Pengumuman itu mengundang kebingungan masyarakat atas dua hal. Pertama, sejak kapan Bank Century mengalami kesulitan dan mengapa baru diumumkan sekarang? Kedua, benarkah peristiwa ini hanya menimpa Bank Century saja? Adakah bank lain yang mengalami masalah serupa?

Celakanya tidak ada penjelasan yang lengkap tentang apa yang sesungguhnya terjadi terhadap Bank Century. Tidak ada penjelasan apakah penurunan nilai aset Bank Century disebabkan oleh kesalahan manajemen atau akibat penarikan dana nasabah secara besar-besaran. Masyarakat dibiarkan berspekulasi sendiri dan menganggap pemerintah dan BI menutup-nutupi persoalan sebenarnya. Jika hal ini dibiarkan, masyarakat akan menjadi buta dan tidak melihat dengan jernih bahwa sebenarnya hanya Bank Century saja yang bermasalah. Sementara ratusan bank skala menegah dan kecil lainnya dalam kondisi sehat. Akibatnya bisa ditebak. Bank-bank sekelas atau di bawah Bank Century berpotensi mengalami kesulitan likuiditas akibat penarikan berlebihan dari dana nasabah.

Disinilah wibawa pemerintah dan BI diuji. Masyarakat sudah cukup jengah dengan citra BI yang lebih banyak politisnya, akibat aib “pengucuran” dana BI ke sejumlah anggota DPR . Belum lagi kegagalan BI menyelamatkan anak usahanya, Indover dari jurang kebangkrutan.

Terhadap Bank Century, BI harus berani menyatakan dengan tegas bahwa apa yang menimpa Bank Century adalah akibat persoalan internal bank tersebut. Jelaskan kesalahan manajemen secara terbuka. Lalu jelaskan secara terbuka, langkah apa saja yang dilakukan oleh BI untuk menyelamatkan nasabah Bank Century dan ongkos penyelamatan itu. Agar di masa mendatang tidak lagi muncul kasus BLBI jilid II.

Selain itu, sebagai regulator, BI juga harus mengawasi dengan ketat aktivitas seluruh bank nasional, tanpa pandang bulu. Lakukan pembenahan pada sistem pengawasan pengelolaan aset perbankan. Sehingga potensi penurunan nilai aset bisa terdeteksi secara dini dan tidak ada lagi alasan untuk menyalahkan kondisi makro ekonomi.

Demi reputasi dan keamanan perbankan nasional BI harus melakukan langkah-langkah di atas dengan cepat. Sebelum semuanya terlambat. Jadi, apakah BI mau terbuka tapi tetap tenang, atau bersikap seolah biasa saja tapi menyembunyikan borok yang parah?