Mahadewi: Kopi, Kayu Manis dan Buku

“Aku minta maaf kalau itu ternyata menyakit kamu. Aku nggak pernah bermaksud menyakti kamu.” Bayu mengatakan itu dengan perasaan berdosa yang luar biasa. “It won’t happen again. I promise..” lanjutnya pelan.

Pikirannya berkecamuk menunggu jawaban. Sesaat ingatannya melayang ke peristiwa sebulan sebelumnya. Saat pertengkaran tersebut terjadi. Saat Mahadewi memutuskan berhenti bicara kepada Bayu.

——-

“Why don’t you take your wife for dinner? Kamu terlalu sering pergi berdua denganku,” saran Dewi.

“Sering kok,” jawab Bayu singkat. Ia kemudian kembali tenggelam dalam setumpuk dokumen kerja yang membuatnya kesal.

“Well..tidak ada kata sering for having a dinner with your wife kan?” lanjut Dewi.
Sejenak Bayu terdiam. Ada yang ingin disampaikannya, namun nalarnya memintanya berkata lain.

“Bener juga sih. Thanks, kamu sudah mengingatkan aku,” jawabnya menipu hati.

Percakapan via Blackberry messenger itu terhenti oleh dering ponsel Bayu.

“Hey..finally you call me. Kapan mau pulang? Sudah enam bulan kamu nggak mau pulang ke rumah,” tanya Bayu kepada lawan bicaranya.

“Papa..mungkin aku nggak akan pernah pulang ke rumah lagi. Aku sedang menyusun surat gugatan. Sebaiknya kita akhiri saja pernikahan kita.”

Ya, mengakhiri pernikahan. Tari istri Bayu akhirnya mengutarakannya.

“Hah! I thought we’ve made significant progress setelah berlibur ke Semarang. Kita jadi lebih sering pergi berdua,” ujar Bayu terbata-bata.

“Pertimbangkan lagi..please. Kita bisa bertahan, trust me!”

“No..keputusanku sudah bulat. Kamu tahu bahwa upaya kita tidak pernah berhasil. Kebersamaan telah menjadikan rumah kita zona perang,” sergah Tari.

“Lalu si kecil gimana?” tanya Bayu dengan nada tersendat.

“You don’t need to be worry. Aku cuma minta kamu tetap jadi bapak yang baik bagi dia. Udah ya…see you next month in the court,” lanjut Tari mengakhiri pembicaraan.

Dunia Bayu serasa runtuh. Meskipun sudah diperkirakan jauh hari, tetap saja hatinya galau ketika kata cerai itu benar-benar terucapkan. Mimpinya untuk menjalani siklus hidup; lahir, sekolah, bekerja, menikah, membesarkan anak, kemudian mati bahagia, sirna.

“Apa yang sudah dipersatukan Tuhan, ternyata bisa dipisahkan oleh kekerasan hati manusia,” gumam Bayu.

“Kamu masih di kantor? Pulang sana, nanti sakit lagi.” Blackberry message dari Dewi memecah kekalutan Bayu. Dengan pikiran dan suasana hati yang campur aduk, Bayu menjawab pesan itu.

“Dewi, aku mau tanya. Kenapa kamu seringkali bertanya soal istriku setiap kita jalan berdua saja?”

Belum sempat Dewi menjawab, Bayu menuliskan pertanyaan keduanya.

“Kamu sebenarnya enggan ya jalan denganku?”

Sesaat kemudian ia tersadar, jika ini adalah pertanyaan yang konyol.

“Pernah mikir nggak apa pendapat orang kantor tentang aku, seandainya mereka tahu kita sering jalan berdua?” Dewi balik bertanya.

Bayu mengerti, pertanyaan ini sangat wajar, mengingat semua orang tahu, Bayu sudah memiliki seorang istri dan anak. Sementara Mahadewi, perempuan lajang yang dipuja banyak laki-laki

“Ya..tentu saja. Itulah sebabnya aku lebih suka berkomunikasi lewat Blackberry messenger,” jawab Bayu.

“Tapi kenapa kamu khawatir dengan pendapat orang-orang kantor. Bukannya kamu juga seringkali pergi dengan yang lainnya?” Bayu kembali bertanya.

“Dengan yang lain mostly soal kerjaan. Yang lainnya lagi teman-teman yang masih lajang,” sergah Dewi.

“Jadi kalau pergi denganku beda ya? Memangnya aku ngajak kamu selingkuh? Atau karena aku stupid ugly married man? Kenapa nggak bisa biasa aja?”

Kebiasaannya menyudutkan lawan bicara dengan pertanyaan mulai muncul. Kali ini bercampur dengan kegelisahan yang sangat.

“Hey! Don’t you ever judge me! Aku bukan perempuan yang menilai laki-laki berdasarkan tampangnya!” jawab Dewi dengan kesal.

“And then what? Kalau begitu kenapa kamu khawatir dengan opini orang? Biasa aja dong!” Balas Bayu tak kalah sengit.

Bagi Bayu jawaban Mahadewi terlalu absurd. Sama seperti arti kedekatan mereka berdua yang membingungkan dan serba kebetulan.

“Now you go with whatever you believe and leave me alone!” Dewi mengakhiri pembicaraan.

—-

Mahadewi menatap Bayu tajam. Tatapan yang penuh amarah sekaligus pedih.

“Kamu selalu minta maaf, tapi kemudian mengulangi kesalahan yang sama.”

“Ya..aku sadar dan nggak akan pernah mengulanginya lagi,” janji Bayu

“Bayu..you always playing. How can I trust you?”

Bayu tak mengerti sepenuhnya maksud perkataan Dewi. Ia selalu sulit memahami pernyataan Dewi yang simbolik.

Seperti ketika Bayu berusaha memahami maksud kalimat, “Kamu ceriakan pagi. Sekali lagi,” di status Twitter Dewi. Status yang dipulikasikan, sesaat setelah Dewi menerima buku J.A. Gaarder, Solitaire Mystery, dari Bayu.

Dengan logika yang penuh kebingungan, ia menjawab sekenanya.

“Aku bermain apa?”

Dewi tidak menjawab. Ia berlalu meninggalkan meja kerjanya, dengan Bayu mengikuti di belakang.

Sambil menekan tombol lift, ia kembali menatap Bayu. Kali ini matanya berkaca-kaca.

“I hate you! Never play with someone’s feeling!” seru Dewi setengah terisak.

Bayu tahu Dewi sangat kesal, namun tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia ingin mengungkapkan semuanya. Alasan-alasan di balik perhatian dan sikap kekanakannya. Situasi sebenarnya.

“No..it’s not the time. Yup, I Should wait till everything done,” gumam Bayu.

Di dalam lift, dipeluknya erat tubuh mungil Dewi. Dicium keningnya. Satu kalimat lalu terucap pelan.

“Dewi..aku sayang banget sama kamu.”

“Bayu..stop it. Your love is for everybody” kata Dewi sambil melangkah keluar lift.

“Tidak Dewi..”

Bayu kehilangan kata-kata. Ia tak mampu menjelaskan situasi yang tak pernah dipahaminya dengan utuh. Satu yang ia mengerti, bahwa ia sangat mencintai Mahadewi.

Teka-teki dan ketidaksempurnaan Mahadewi adalah harapan masa depannya, setelah Bayu gagal menjaga apa yang sudah dimilikinya.

“Hidup memang tak selalu berjalan sempurna, meski untuk berharap pada sosok yang tidak sempurna”

Dan Bayu akan selalu ingat tiga hal dari Mahadewi; kopi, kayu manis dan buku.

Danau Ranau, December 27, 2010