9 Chairs (The Beginning*)

Kursi-kursi itu tak berubah, tetap di sana
Rapi berjajar diam dengan formasi yang sama
Inginkan sesorang duduk diatasnya
Sunyi dan sederhana namun pisahkan kita
Tak mau menyingkir demi asa kita
Yang kerap berselisih mata

Nafasku tertahan ingin singkirkan mereka
Enyahkan jarak yang pisahkan kita
Lepaskan diam yang bebankan jiwa
Waktuku tak banyak, kau pun juga
Akankah kita terus diam saja?
Nantikan masa lewat begitu saja?

*The Ghost – Robert Harris

Balada Cinta Sang Penjagal

CINTA sejati takkan pernah mati. Sepenggal syair lagu ‘Cinta Sejati’ lantunan penyanyi Arri Lasso itu begitu pas untuk menggambarkan perasaan Ida Nurhandayani, 22, pada suaminya Suud Rusli, terpidana mati kasus pembunuhan Direktur Utama PT Asaba, Budiarto Angsono.

“Ia cinta pertama saya,” tutur Ida lirih. Di matanya Suud adalah sosok pria terbaik dan terlembut yang pernah dikenalnya.

Ida memang luar biasa. Dengan tubuhnya yang proporsional, wajah mungil berhias alis tipis, menunjukkan pesonanya sebagai sosok perempuan idaman bagi Suud. Lalu dengan nada tertahan, lewat bibir mungilnya, perempuan muda ini menuturkan kisah manis dan getir saat ia bersama mantan kopral dua Marinir itu. Tiga tahun silam, Suud datang ke rumah Ida di Pondok Labu, Jakarta Selatan, untuk mencari rumah kos. “Saat datang, ia tampak begitu gagah dengan baju dinas Marinir,” kenang Ida.

Lalu gadis berkulit bersih itu tergerak hati menolong Suud mencari kos. “Akhirnya kami mendapatkan rumah kos, tepat di belakang rumah saya,” lanjut Ida.

Lantaran bertetangga, Suud sering berkunjung ke rumah Ida. “Ia begitu baik dan perhatian kepada saya,” Ujarnya pelan. Kebaikan dan perhatian dari Suud, lambat laun meluluhkan hatinya. Ia pun jatuh cinta kepada Suud yang lebih tua 14 tahun dari dirinya.

Laiknya sepasang kekasih, keduanya kerap bermalam mingguan. “Biasanya kami makan seafood di Jalan Fatmawati. Mas Suud selalu pesan ikan bakar dan udang saus tiram,” tutur Ida.

Cinta membara di dada Ida semakin menjadi justru saat Suud secara jujur mengaku telah beranak istri. “Ia bilang kalau istrinya membawa anaknya, Arini Sherly Rusli, pergi meninggalkan dirinya. Saya merasa sangat iba mendengarnya,” papar Ida.

Lalu 19 Juli 2003, terjadilah peristiwa yang mengubah hidup Ida selamanya. Suud Rusli dan tiga kawannya menembak mati bos PT Asaba dan seorang anggota Kopasus pengawalnya.

“Saya shock mendengarnya. Saya tidak percaya orang selembut dia tega membunuh orang,” sahut Ida sambil menyibakkan rambut pendeknya.

Atas perbuatannya Suud Rusli pun divonis hukuman mati. Namun, cinta sejati Ida tidak luntur setitik pun, sekalipun keluarganya marah besar dan melarangnya berhubungan lagi dengan Suud. Bahkan, atas nama cinta pula ia menuruti saja ketika Suud menyuruhnya membawakan gergaji besi.

“Mas Suud bilang kalau ia butuh gergaji besi untuk memperbaiki tempat tidurnya di sel,” tuturnya lugu.

Gergaji besi itulah yang dipakai Suud saat pelarian pertamanya 5 Mei 2005 silam. Saat pelarian kedua Suud, 6 November 2005, Ida memutuskan ikut. Ia kabur dari rumah dan pergi bersama Suud ke Subang. Karena cinta yang sangat besar, akhirnya 17 November lalu mereka menikah secara siri di tempat persembunyian mereka di Subang, Jawa Barat.

Bulan madu pun terpaksa mereka nikmati dalam pelarian. Akhirnya 23 November lalu mereka ditangkap aparat saat berada dalam sebuah gubuk di tengah sawah di Subang. Kini Suud Rusli kembali mendekam di Rumah Tahanan Militer (RTM), Cimanggis, Depok, dengan pengamanan yang sangat ketat. Ajalnya pun tak lama lagi. Namun, Ida tetap setia menunggu. Ia mengaku tidak ingin menambatkan hatinya pada pria lain. Sekarang Ida berharap ia diberi kesempatan menemui Suud menjelang eksekusi mati suaminya itu. “Saya ingin mengatakan ke Mas Suud. Saya sangat mencintainya meskipun maut memisahkan kami,” katanya lirih.

*Diambil dari wawancara di tahanan Polda Metro Jaya, 16 Januari 2006

Kita Tidak Pernah Sendiri

“It’s not your problem!” atau “Ini bukan urusan elo”. Kalimat yang sering aku lontarkan, demi mencegah merasuknya opini orang lain, saat aku mengambil keputusan. Yes, sering. Bahkan terlalu sering. Sejak aku masih kanak-kanak.

 

Aku tidak pernah peduli dengan maksud baik yang tersirat dari opini itu. Pokoknya setiap keputusan yang aku ambil harus steril dari opini orang lain. Aku ingin membuktikan jika aku cukup matang dan punya kapabilitas untuk mengambil keputusan secara mandiri. Berani menanggung risiko dari setiap keputusan itu. Seberat apa pun itu.

 

Masa kecilku yang jauh dari indah, membentukku menjadi orang yang keras kepala dan tidak peka pada perasaan orang lain. Segala sesuatu aku putuskan sendiri dan kerjakan sendiri. Terlalu biasa dicela dan gagal. Terlalu biasa mencari solusi sendiri. “Hidup matiku ada di tanganku sendiri. Jadi pergilah jauh-jauh,” itu pendirianku.

 

Lalu, hari itu datang. Hari di mana aku gagal. Hancur dan kehilangan akal untuk bangkit. Kemandirian yang aku banggakan itu hilang seketika. Aku cuma diam. Bukan karena tenang, tapi untuk menutup diri agar terlihat tegar.

Hingga kemudian seorang sahabat menyapaku dan berkata. “Terkadang kita harus berhenti sejenak dan memandang sekeliling, sebelum melangkah lagi”. Sederhana tapi dalam maknanya.

 

Yup, mungkin aku memang harus berhenti sejenak dan memandang dunia di sekitarku. Dan aku menemukan bahwa aku ternyata tidak pernah sendiri. Mereka yang tidak pernah aku pedulikan ternyata tetap memerhatikanku dan mengulurkan tangannya. Tanpa kuminta. Tanpa banyak cakap.

 

Berkat mereka aku bertahan. Menemukan kembali hidup yang sempat sayup. Sejak hari itu, aku berkomitmen; tidak akan pernah meninggalkan mereka yang dekat denganku, menjaga setiap orang yang ada di dalam lingkaran kecil kehidupanku.

 

*Diambil dari catatan harianku, 3 Maret 2004

Kisah Si Jomblo Sedih

Tinggi, botak, perut membusung. Gemar memakai baju hitam. Spesialis foto dan segala hal yang berbau kamera.

Kami memanggilnya Pei. Namun ia lebih suka menyebut dirinya jomblo sedih. Mungkin ia ingin agar semua orang tahu jika dirinya adalah seorang laki-laki jomblo, yang tengah bersedih lantaran tak punya pasangan. Atau mungkin juga sebutan itu semacam sinyal panggilan untuk perempuan-perempuan agar segera datang menghapus kesedihannya.

Entahlah apa maksudnya. Hanya Tuhan, dirinya dan rokok Marlboro Black Menthol kesukaannya, yang mengerti.

Ia kerap membuat puisi-puisi cinta yang sendu. Sangat menyayat hingga terlarang dibaca oleh ibu-ibu yang sedang hamil dan menyusui (lho kok). Selain itu, ia tak lelah berulang-ulang menonton film “Jomblo”. Ia bahkan sampai hafal dialog di film yang diperankan oleh Ringgo Agus Rahman itu.

Ia kadang ngomel ke teman-temannya. “Cowok model elo gini nih yang bikin gue jomblo terus. Stok cewek single, elo babatin semua. Kagak puas ya punya pasangan cuma satu,” ujarnya dengan muka sebal, kepada salah seorang temannya.

Dari uraian di atas, mungkin langsung terbersit sosok seorang Rambo berhati Rinto. Muka serem berjiwa inem (nggak nyambung). Namun jangan salah sangka. Sesungguhnya ia adalah laki-laki dengan jiwa terbesar, yang pernah saya temui.

Lewat sebuah percakapan antar dua spesies (kodok dan ayam), saya akhirnya paham mengapa ia selalu menjomblo. Pilihannya menjadi jomblo bukan karena tak mampu mendapatkan pasangan, tapi karena ia sangat mencintai perempuan-perempuan pujaannya.

Baginya, melihat mereka bahagia adalah puncak dari komitmen untuk mencintai dan melindungi. Karena dia sangat mengenal perempuan itu, dengan jiwa besar ia mengakui bahwa dirinya bukan laki-laki terbaik.

“Ndre, untuk membuat bahagia perempuan pujaan, kita tak harus memiliki dia. Menjadi sahabat terbaik baginya, itu lebih indah. Yang penting, elo jagain dia sampai mati. Never let her down!” ujarnya kepada saya beberapa waktu lalu.

Segera saya sadar, alangkah beruntungnya seorang perempuan yang menjadi pujaannya. Dijaga, dilindungi sampai mati, tanpa pamrih. Bukan sekadar cinta eros yang diberikannya, tapi kasih yang agape.

Hai perempuan-perempuan yang cantik. Carilah laki-laki seperti si Jomblo Sedih ini. Look into his heart and you will find the greatest man ever!

7 Tips Menjadi Atasan/Senior Yang Keren

Waktu pertama kali bekerja, aku diajarkan “Dilarang menolak penugasan, sesulit apapun itu”. Jangankan kehujanan dan kepanasan, bertaruh nyawa demi menyelesaikan penugasan juga pernah aku jalani.

Lalu ketika menjadi karyawan senior aku diajarkan, “Jangan pernah limpahkan kesalahan pada Junior. Senior harus berani bertanggung jawab atas kesalahan tim”.

Aku belum pernah tahu apa rasanya menjadi atasan yang punya banyak bawahan. Tapi kini aku tahu bagaimana supaya jadi senior dan atasan yang keren.

Pertama, selalu berpenampilan flamboyan, rapi, necis dan mahal. Dengan begitu seketika terbentuk garis tegas, siapa yang bergaji lebih besar dan membentuk kesan sebagai orang yang rapi, tertata.

Kedua, berbicaralah dengan halus, sopan supaya tampak berwibawa.

Ketiga, gunakanlah bahasa Inggris sebanyak mungkin dan bahasa Indonesia sesedikit mungkin, dengan begitu tercipta kesan sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan cerdas.

Keempat, kurangi membuat proposal atau konsep strategis, cukup bicara ide besar supaya terlihat visioner.

Kelima, segera salahkan junior atau bawahan jika kita tak tahu apapun tentang pekerjaan kita, sehingga kita tak tampak bodoh dan dimaki GM atau Direktur.

Keenam, jangan pernah makan siang di warteg. Panas!!

Ketujuh, selalu tampak sibuk di depan komputer dan perbarui terus statusmu di situs jejaring sosialmu. Supaya tampak sedang menjaring relasi bisnis.

Demikian tips dari saya

2011

‎​Come, Come again!
Whatever you are…
Whether you are disbeliever,
idolater or fireworshipper.
You have broken your vows
of repentance a hundred times
this is not the gate of despair,
this is the gate of hope.
Come, come again…

-Jalal ad-Dien Rumi-