Balada Cinta Sang Penjagal

CINTA sejati takkan pernah mati. Sepenggal syair lagu ‘Cinta Sejati’ lantunan penyanyi Arri Lasso itu begitu pas untuk menggambarkan perasaan Ida Nurhandayani, 22, pada suaminya Suud Rusli, terpidana mati kasus pembunuhan Direktur Utama PT Asaba, Budiarto Angsono.

“Ia cinta pertama saya,” tutur Ida lirih. Di matanya Suud adalah sosok pria terbaik dan terlembut yang pernah dikenalnya.

Ida memang luar biasa. Dengan tubuhnya yang proporsional, wajah mungil berhias alis tipis, menunjukkan pesonanya sebagai sosok perempuan idaman bagi Suud. Lalu dengan nada tertahan, lewat bibir mungilnya, perempuan muda ini menuturkan kisah manis dan getir saat ia bersama mantan kopral dua Marinir itu. Tiga tahun silam, Suud datang ke rumah Ida di Pondok Labu, Jakarta Selatan, untuk mencari rumah kos. “Saat datang, ia tampak begitu gagah dengan baju dinas Marinir,” kenang Ida.

Lalu gadis berkulit bersih itu tergerak hati menolong Suud mencari kos. “Akhirnya kami mendapatkan rumah kos, tepat di belakang rumah saya,” lanjut Ida.

Lantaran bertetangga, Suud sering berkunjung ke rumah Ida. “Ia begitu baik dan perhatian kepada saya,” Ujarnya pelan. Kebaikan dan perhatian dari Suud, lambat laun meluluhkan hatinya. Ia pun jatuh cinta kepada Suud yang lebih tua 14 tahun dari dirinya.

Laiknya sepasang kekasih, keduanya kerap bermalam mingguan. “Biasanya kami makan seafood di Jalan Fatmawati. Mas Suud selalu pesan ikan bakar dan udang saus tiram,” tutur Ida.

Cinta membara di dada Ida semakin menjadi justru saat Suud secara jujur mengaku telah beranak istri. “Ia bilang kalau istrinya membawa anaknya, Arini Sherly Rusli, pergi meninggalkan dirinya. Saya merasa sangat iba mendengarnya,” papar Ida.

Lalu 19 Juli 2003, terjadilah peristiwa yang mengubah hidup Ida selamanya. Suud Rusli dan tiga kawannya menembak mati bos PT Asaba dan seorang anggota Kopasus pengawalnya.

“Saya shock mendengarnya. Saya tidak percaya orang selembut dia tega membunuh orang,” sahut Ida sambil menyibakkan rambut pendeknya.

Atas perbuatannya Suud Rusli pun divonis hukuman mati. Namun, cinta sejati Ida tidak luntur setitik pun, sekalipun keluarganya marah besar dan melarangnya berhubungan lagi dengan Suud. Bahkan, atas nama cinta pula ia menuruti saja ketika Suud menyuruhnya membawakan gergaji besi.

“Mas Suud bilang kalau ia butuh gergaji besi untuk memperbaiki tempat tidurnya di sel,” tuturnya lugu.

Gergaji besi itulah yang dipakai Suud saat pelarian pertamanya 5 Mei 2005 silam. Saat pelarian kedua Suud, 6 November 2005, Ida memutuskan ikut. Ia kabur dari rumah dan pergi bersama Suud ke Subang. Karena cinta yang sangat besar, akhirnya 17 November lalu mereka menikah secara siri di tempat persembunyian mereka di Subang, Jawa Barat.

Bulan madu pun terpaksa mereka nikmati dalam pelarian. Akhirnya 23 November lalu mereka ditangkap aparat saat berada dalam sebuah gubuk di tengah sawah di Subang. Kini Suud Rusli kembali mendekam di Rumah Tahanan Militer (RTM), Cimanggis, Depok, dengan pengamanan yang sangat ketat. Ajalnya pun tak lama lagi. Namun, Ida tetap setia menunggu. Ia mengaku tidak ingin menambatkan hatinya pada pria lain. Sekarang Ida berharap ia diberi kesempatan menemui Suud menjelang eksekusi mati suaminya itu. “Saya ingin mengatakan ke Mas Suud. Saya sangat mencintainya meskipun maut memisahkan kami,” katanya lirih.

*Diambil dari wawancara di tahanan Polda Metro Jaya, 16 Januari 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s