Ctrl – Alt – Delete

Tiga tombol itu kerap jadi teman paling setia, ketika komputer rakitan zaman jumilah jangkrik di rumahku ngadat berat. Entah karena terlalu sering dipakai bermain game, atau akibat terlalu banyak file XXX, di hard disk nya.

Setiap kali ngadat, beribu cara diupayakan agar komputer itu kembali beroperasi dengan lancar. Tapi tetap saja gagal. Akhirnya senjata pamungkas itu pun dikeluarkan. Ctrl – Alt – Delete. Ya, tiga tombol di keyboard itu pun akhirnya ditekan bersamaan. Komputer itu lalu ter-restart, dan akhirnya kembali beroperasi dengan lancar.

Malam ini, kembali masalah yang sama terjadi pada komputer itu. Kesal rasanya. Pekerjaan yang menunggu diselesaikan jadi tertunda. Makian, umpatan, sumpah serapah dilontarkan dengan bersemangat. Bahkan pukulan pun dilayangkan, dengan harapan si komputer mau berfungsi dengan normal kembali.

Aku menuduh komputer itu bebal dan tak tahu diri. Tak mau mengakui bahwa mungkin saja penyebabnya adalah aneka peranti lunak bajakan atau file-file porno yang aku unduh dari sumber yang tidak aman. Sayang, segala perlakuan buruk itu gagal total. Dan mau tak mau tiga tombol sakti tadi dipilih jadi jalan terakhir. Meskipun resikonya riwayat dokumen yang sedang dikerjakan tamat, dan harus mengulang sedari awal. Ctrl – Alt – Delete.

Sejenak kemudian aku berpikir. Tanpa alasan yang jelas, aku mencoba menganalogikan komputer dengan hidupku, manusia. Proses berpikir manusia, mirip dengan langkah-langkah sebuah komputer mengolah data dan lalu menyajikannya.

Data-data yang rumit dengan parameter tertentu, diolah oleh sebuah prosesor berkecepatan tinggi. Rumit namun terukur.

Ketika data yang dimasukkan terlalu banyak, atau ada penyusup tak dikenal macam virus, bug atau apalah namanya, kinerja computer itu akan menurun drastis. Bahkan tak jarang berhenti total alias hang.

Sama seperti manusia; persoalan-persoalan kerap datang silih berganti. Mulai dari personal internal hingga persoalan eksternal yang entah muncul dari mana, bak virus yang mendadak menjangkiti komputer.

Ketika persoalan itu menumpuk, segala logika dan akan tak mampu bekerja dengan maksimal. Hidup jadi terasa berat, asa lalu pupus. Alih-alih berpikir kreatif, kemarahan seringkali menyeruak di tengah rasa frustasi mencari solusi.

Keangkuhan diri membuat manusia seringkali gagal mengakui kesalahan, dan kelalaian yang mungkin saja menjadi penyebab. Manusia lebih suka memaki, mencari tertuduh.

Mengucapkan, “gara-gara kebodohan kamu, hidup saya jadi susah”, lebih mudah ketimbang mengatakan, “Ternyata kesalahan saya sangat banyak. Maaf.”

Kerap manusia enggan mengambil resiko dengan meretas persoalan. Nyali manusia kadang terlalu kecil untuk memulai segala sesuatu dari awal. Terlalu penakut me-restart diri, agar kehidupan kembali berjalan normal.

Harusnya kita belajar menekan tombol “Ctrl – Alt – Delete” di dalam diri, dengan penuh keberanian dan kerelaan. Untuk kemudian menuliskan kembali kisah hidup, sedari awal.

Kisah yang lebih baik.

Invictus

By William Henley

A poem that inspired Nelson Mandela

Out of the night that covers me,
Black as the Pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.
 
In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbowed.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds, and shall find, me unafraid.

It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll,                                 

I am the master of my fate:
I am the captain of my soul.