Goodbye sister (sebuah otobiografi)

“Eva Kristy Indahwati”

Kami sekeluarga memanggilnya “Eva”, sementara sahabat-sahabatnya lebih suka memanggil “Kristy”.

Anak tertua di keluarga kami, anak terpintar, sekaligus paling pendiam. Masa kecilnya pahit, sangat pahit. Selalu mengalah demi tiga adiknya. Tapi tak sekalipun ia mengeluh.

Ia hanya diam ketika menanggung beban, lalu menebusnya dengan prestasi gemilang. Selalu menjadi nomor satu di sekolah, lalu lulus kuliah dengan predikat “Cumlaude”.

Benci sayuran dan penggemar mie instan super pedas. Bukan penikmat kopi tapi kerap kepergok menikmati minuman energi berkafein tinggi. “Kafein nya kopi nggak bikin mata melek. Nggak seru ah!” ujarnya kala ditegur.

Kendati sangat jarang marah, namun ia adalah sosok paling disegani di keluarga. Sekali ia beropini, kami pun lalu patuh.

Sikapnya tak berubah walau ia telah bersuami dan memiliki seorang anak perempuan yang cantik berusia enam tahun. Tetap pendiam dan dingin. “Yang paling penting itu tindakan. Cerewet dan kebanyakan gaya nggak akan menyelesaikan persoalan, malah menambah keruwetan,” ujarnya suatu hari.

Sikap diam dan tak pernah mengeluh itu membuat kami tak pernah tahu isi hatinya. Sampai kemudian ia jatuh tak sadarkan diri, pertengahan Januari 2011 lalu.

Tak sadarkan diri, lalu koma hingga kini. Kanker ganas stadium lanjut di batang otak, telah merenggut kesadarannya.

Ia tak sempat mengatakan rasa sakitnya. Tak sempat pula ia pamit ke rumah sakit pada suami dan anaknya. Hanya pertanda, berupa kata-kata kepadaku, “Nanti kalau ada apa-apa sama gue, elo jagain ibu dan anak gue ya. Elo kan sekarang dah sendiri” Kata-kata yang aneh di hari Natal 2010.

Mungkin saat itu, ia sudah mendapat firasat akan terjadi sesuatu pada dirinya. Entahlah, yang jelas itu adalah hal terakhir yang ia sampaikan padaku.

Kami sekeluarga menanti sebuah keajaiban datang menyembuhkannya. Sangat melelahkan..sangat melelahkan. Tapi kami paham, apapun yang terjadi, meski akan sangat menyakitkan, sangat mendukakan, tetaplah sebuah keajaiban.

Penantian itu sudah berakhir. 28 April, 2012, pukul 17.45 WIB, Sang waktu menyudahi pertarungan 457 hari yang penuh air mata. Berakhir dengan kemenangan iman, kesetian. Kematian yang memberikannya anugerah kesembuhan abadi.

Hidupnya sudah menjadi anugerah bagi kami. Sakitnya telah menjadi pengingat bagi kami agar terus saling menjaga, mengasihi dan lebih menghargai hidup.

Karena hidup terlalu berharga untuk disia-siakan. Karena waktu terlalu singkat untuk sekedar diisi kebencian.

“Dear sister, thanks for everything you’ve done for us. We miss you, I miss you. We love you, I love you. Everything will be alright.”

Selamat jalan. Sampaikan salam kami untuk Sang Pencipta

Karawaci, 29 April 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s