Saya PR. Bukan Tukang Pos

A             : Kamu pernah mengurus klien apa saja?

Me          : Banyak macam

A             : Pernah mengurus launching produk dong?

Me          : Nggak pernah

A             : Loh katanya pernah mengurus banyak klien

Me          : (Mulai sebal) Saya konsultan Public Affairs. Bukan consumer PR

A             : Kalau mau pasang iklan bisa lewat kamu?

Me          : Saya bukan konsultan biro iklan (makin sebal)

A             : Kalau saya mau buat pameran, kamu bisa bantu?

Me          : Saya bukan Event Organizer

A             : Lalu kamu kerjanya apa sih? Kok tidak seperti PR?

Me          : *malas menerangkan*

Entah sudah berapa kali saya mengalami dialog seperti di atas. Hampir bosan rasanya menerangkan, bahwa dunia PR yang saya pahami berbeda dengan pandangan umum.

Saya nyaris tidak pernah tampil dalam sebuah konferensi pers.Saya juga tidak pernah menampilkan diri di dunia nyata dan virtual sebagai seorang pakar di dunia PR. Prinsip saya sederhana; bekerja sebaik mungkin di belakang layar agar klien saya tampil sebagai pemenang. Selain itu, oleh beberapa teman penampilan saya lebih cocok jadi debt collector ketimbang seorang PR.

Spesialisasi sebagai konsultan Public Affairs yang saya lakoni mungkin membosankan bagi kebanyakan praktisi PR. Jauh dari glamour dan hiruk pikuk personal branding agar terlihat sebagai seorang pakar. Pekerjaan saya sederhana,  hanya membaca puluhan artikel, menonton berita TV, melakukan analisa dan pemetaan, lalu membuat rekomendasi untuk klien. Di akhir proses itu, saya turun ke lapangan untuk menguji hipotesa dan rekomendasi, serta membangun jejaring informasi dan pendukung kepentingan klien.

Seringkali, tugas dari klien mengharuskan saya untuk bekerja lintas fungsi, seperti; corporate affairs, external relations, government affairs, lobbying, policy, public relations dan regulatory. Sangat menyenangkan bagi saya.

Tanpa bermaksud menyindir kawan-kawan praktisi di dunia PR, dari  dari hal-hal yang tersebut, saya menemukan jika seorang praktisi Public affairs dapat memberikan dampak positif yang besar. Yakni dengan memastikan klien tidak dilemahkan dan dibutakan oleh sebuah isu. Bahkan memungkingkan klien untuk mengambil kesempatan mengendalikan sebuah isu.

Ada sebuah kebanggaan tersendiri, ketika mendapati kerja yang katanya membosankan itu ternyata menjadi perbincangan bahkan kontroversi publik. Senang rasanya membaca sebuah peraturan baru, dimana saya terlibat dalam penyusunannya.

Ya, PR ternyata dunia yang beragam. Tak melulu tentang menghibur media.

Sayang, publik pada umumnya hanya melihat secuil dari dunia PR. Mungkin kami, para praktisi PR tak pernah memberikan definisi lengkap atas profesi kami sendiri. Jangan-jangan, kami, para praktisi PR juga tak paham betapa beragamnya spesialisasi dalam dunia PR.

Tak heran, jika kemudian sebuah media online terkemuka menuliskan, salah satu kunci utama menjadi PR yang sukses adalah penampilan. Lantas dengan gamblangnya, media tersebut menulis, seorang PR perlu melakukan investasi pada penampilan.

Jika demikian, dilarang protes apabila publik menganggap PR sebagai tukang pos, alias tukang kirim press release belaka.

*Disclaimer: Ini merupakan pendapat pribadi dan otokritik untuk diri saya sendiri

Advertisements

A Walk To Remember

“Orang yang paling bahagia tidak selalu memiliki sesuatu yang terbaik, tapi hanya berusaha menjadikan setiap apapun yang hadir dalam hidupnya sebagai yang terbaik.”

Saya menemukan kalimat ini dari notes di Facebook seseorang teman. Dia benar. Kebahagiaan tidak selalu datang dari apa yang berhasil diraih atau dimiliki. Memiliki segalanya bukan jaminan bahwa hidup akan bahagia selamanya.

Kebahagiaan kerap datang dari hal-hal sederhana yang kita lakukan. Acap datang dari tindakan sepele yang dilakukan orang lain untuk kita. Ketika kita mengejar kebahagiaan lewat bayangan indah dan ambisius, tanpa disadari lelucon bodoh, tawa yang usil atau sentuhan ringan dari orang lain, terutama yang kita cintai, bernilai luar biasa. Kita kerap terlambat memahami sebelum akhirnya benar-benar kehilangan hal-hal kecil itu sama sekali.

Kebahagiaan seringkali menghampiri saat kita memandang sesuatu yang berharga dalam hidup kita. Meskipun itu bukan milik kita.

Kebahagiaan bisa didapatkan dengan menuliskan kata yang tak pernah tersampaikan untuk seseorang. Dia yang tidak kita miliki.

Ya, dia benar. Kebahagiaan selalu hadir ketika kita menjadikan setiap apapun yang hadir dalam hidup sebagai yang terbaik. Sekalipun hanya sebentar…

Kebahagiaan bisa hadir hanya dengan mengingat tiga hal darinya: rok hitam selutut, kemeja biru muda dan wajah penuh percaya diri. 

Selamanya…

2012 (Sebuah Harapan)

Seandainya ramalan tentang kiamat 2012 tidak terjadi, ada banyak sekali yang ingin diwujudkan. Dari yang keinginan yang bodoh, harapan yang melankolis, hingga ambisi yang utopis. Tapi dari sekian banyak keinginan itu ada dua hal besar yang sangat ingin diwujudkan dan terus dilakukan.

Mencintai

Tidak ada yang lebih indah ketika kita bisa terus mencintai. Sekalipun dalam kondisi penat dan susah. Bukan sekedar mencintai lawan jenis, hal-hal yang indah dan menyenangkan. Ya, mencintai segala hal yang kita lakukan demi kebaikan.

Mencintai pengorbanan yang kita lakukan untuk orang lain.

Mencintai kegagalan untuk menjadikan diri kita lebih baik.

Mencintai kata-kata bodoh yang kita ucapkan dengan tulus dan jujur.

Mencintai kegusaran orang lain, karena menjadikan kita sabar.

Mencintai kesalahan orang lain, karena menjadikan kita memaafkan.

Dicintai

Begitu nikmatnya ketika kita dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai, mengasihi kita. Bukan atas apa yang kita miliki. Tapi atas apa yang kita lakukan. Tak ada anugerah yang lebih indah dari dicintai.

Dicintai karena pengorbanan kita.

Dicintai karena diri kita yang lebih baik dari sebelumnya.

Dicintai karena ketulusan dan kejujuran.

Dicintai karena kita sabar.

Dicintai karena kita memaafkan.

 

 

 

Ctrl – Alt – Delete

Tiga tombol itu kerap jadi teman paling setia, ketika komputer rakitan zaman jumilah jangkrik di rumahku ngadat berat. Entah karena terlalu sering dipakai bermain game, atau akibat terlalu banyak file XXX, di hard disk nya.

Setiap kali ngadat, beribu cara diupayakan agar komputer itu kembali beroperasi dengan lancar. Tapi tetap saja gagal. Akhirnya senjata pamungkas itu pun dikeluarkan. Ctrl – Alt – Delete. Ya, tiga tombol di keyboard itu pun akhirnya ditekan bersamaan. Komputer itu lalu ter-restart, dan akhirnya kembali beroperasi dengan lancar.

Malam ini, kembali masalah yang sama terjadi pada komputer itu. Kesal rasanya. Pekerjaan yang menunggu diselesaikan jadi tertunda. Makian, umpatan, sumpah serapah dilontarkan dengan bersemangat. Bahkan pukulan pun dilayangkan, dengan harapan si komputer mau berfungsi dengan normal kembali.

Aku menuduh komputer itu bebal dan tak tahu diri. Tak mau mengakui bahwa mungkin saja penyebabnya adalah aneka peranti lunak bajakan atau file-file porno yang aku unduh dari sumber yang tidak aman. Sayang, segala perlakuan buruk itu gagal total. Dan mau tak mau tiga tombol sakti tadi dipilih jadi jalan terakhir. Meskipun resikonya riwayat dokumen yang sedang dikerjakan tamat, dan harus mengulang sedari awal. Ctrl – Alt – Delete.

Sejenak kemudian aku berpikir. Tanpa alasan yang jelas, aku mencoba menganalogikan komputer dengan hidupku, manusia. Proses berpikir manusia, mirip dengan langkah-langkah sebuah komputer mengolah data dan lalu menyajikannya.

Data-data yang rumit dengan parameter tertentu, diolah oleh sebuah prosesor berkecepatan tinggi. Rumit namun terukur.

Ketika data yang dimasukkan terlalu banyak, atau ada penyusup tak dikenal macam virus, bug atau apalah namanya, kinerja computer itu akan menurun drastis. Bahkan tak jarang berhenti total alias hang.

Sama seperti manusia; persoalan-persoalan kerap datang silih berganti. Mulai dari personal internal hingga persoalan eksternal yang entah muncul dari mana, bak virus yang mendadak menjangkiti komputer.

Ketika persoalan itu menumpuk, segala logika dan akan tak mampu bekerja dengan maksimal. Hidup jadi terasa berat, asa lalu pupus. Alih-alih berpikir kreatif, kemarahan seringkali menyeruak di tengah rasa frustasi mencari solusi.

Keangkuhan diri membuat manusia seringkali gagal mengakui kesalahan, dan kelalaian yang mungkin saja menjadi penyebab. Manusia lebih suka memaki, mencari tertuduh.

Mengucapkan, “gara-gara kebodohan kamu, hidup saya jadi susah”, lebih mudah ketimbang mengatakan, “Ternyata kesalahan saya sangat banyak. Maaf.”

Kerap manusia enggan mengambil resiko dengan meretas persoalan. Nyali manusia kadang terlalu kecil untuk memulai segala sesuatu dari awal. Terlalu penakut me-restart diri, agar kehidupan kembali berjalan normal.

Harusnya kita belajar menekan tombol “Ctrl – Alt – Delete” di dalam diri, dengan penuh keberanian dan kerelaan. Untuk kemudian menuliskan kembali kisah hidup, sedari awal.

Kisah yang lebih baik.

We don’t have to fight but we can fight back

Saya sangat tidak menyukai konflik apalagi perkelahian fisik. Saya lebih memilih diam dan menghindar ketika seseorang berteriak penuh sumpah serapah kepada saya.

Saya lebih menyukai bernegosiasi secara damai, ketimbang memaki dengan kata-kata kotor. Lebih baik menjaga kewarasan saya di tempat yang benar, ketimbang meladeni sumpah serapah gila.

Bagi saya lebih penting menunjukkan sisi lembut, ramah dan konyol, ketimbang berusaha terlihat sebagai pria perkasa sangar, pecandu perang dan darah.

Tapi bukan berarti saya tak punya nyali untuk melawan ketika sesorang memaki berlebihan. Saya tak jago berkelahi, tp paling tidak saya hafal titik-titik lemah manusia dan keseimbangan fisik.

Satu hal yang selalu saya ingat, keberanian itu tidak dilihat dari seberapa banyak kata-kata kotor yang diucapkan. Tapi laku dan mentalitas untuk menantang sesuatu yang jauh lebih besar dari kemampuan kita.

Ketika kita terlalu banyak ucapkan makian dan sumpah serapah, suatu saat akan ada seseorang yang membuat kita terdiam dan menyesal

Kita Tidak Pernah Sendiri

“It’s not your problem!” atau “Ini bukan urusan elo”. Kalimat yang sering aku lontarkan, demi mencegah merasuknya opini orang lain, saat aku mengambil keputusan. Yes, sering. Bahkan terlalu sering. Sejak aku masih kanak-kanak.

 

Aku tidak pernah peduli dengan maksud baik yang tersirat dari opini itu. Pokoknya setiap keputusan yang aku ambil harus steril dari opini orang lain. Aku ingin membuktikan jika aku cukup matang dan punya kapabilitas untuk mengambil keputusan secara mandiri. Berani menanggung risiko dari setiap keputusan itu. Seberat apa pun itu.

 

Masa kecilku yang jauh dari indah, membentukku menjadi orang yang keras kepala dan tidak peka pada perasaan orang lain. Segala sesuatu aku putuskan sendiri dan kerjakan sendiri. Terlalu biasa dicela dan gagal. Terlalu biasa mencari solusi sendiri. “Hidup matiku ada di tanganku sendiri. Jadi pergilah jauh-jauh,” itu pendirianku.

 

Lalu, hari itu datang. Hari di mana aku gagal. Hancur dan kehilangan akal untuk bangkit. Kemandirian yang aku banggakan itu hilang seketika. Aku cuma diam. Bukan karena tenang, tapi untuk menutup diri agar terlihat tegar.

Hingga kemudian seorang sahabat menyapaku dan berkata. “Terkadang kita harus berhenti sejenak dan memandang sekeliling, sebelum melangkah lagi”. Sederhana tapi dalam maknanya.

 

Yup, mungkin aku memang harus berhenti sejenak dan memandang dunia di sekitarku. Dan aku menemukan bahwa aku ternyata tidak pernah sendiri. Mereka yang tidak pernah aku pedulikan ternyata tetap memerhatikanku dan mengulurkan tangannya. Tanpa kuminta. Tanpa banyak cakap.

 

Berkat mereka aku bertahan. Menemukan kembali hidup yang sempat sayup. Sejak hari itu, aku berkomitmen; tidak akan pernah meninggalkan mereka yang dekat denganku, menjaga setiap orang yang ada di dalam lingkaran kecil kehidupanku.

 

*Diambil dari catatan harianku, 3 Maret 2004

7 Tips Menjadi Atasan/Senior Yang Keren

Waktu pertama kali bekerja, aku diajarkan “Dilarang menolak penugasan, sesulit apapun itu”. Jangankan kehujanan dan kepanasan, bertaruh nyawa demi menyelesaikan penugasan juga pernah aku jalani.

Lalu ketika menjadi karyawan senior aku diajarkan, “Jangan pernah limpahkan kesalahan pada Junior. Senior harus berani bertanggung jawab atas kesalahan tim”.

Aku belum pernah tahu apa rasanya menjadi atasan yang punya banyak bawahan. Tapi kini aku tahu bagaimana supaya jadi senior dan atasan yang keren.

Pertama, selalu berpenampilan flamboyan, rapi, necis dan mahal. Dengan begitu seketika terbentuk garis tegas, siapa yang bergaji lebih besar dan membentuk kesan sebagai orang yang rapi, tertata.

Kedua, berbicaralah dengan halus, sopan supaya tampak berwibawa.

Ketiga, gunakanlah bahasa Inggris sebanyak mungkin dan bahasa Indonesia sesedikit mungkin, dengan begitu tercipta kesan sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan cerdas.

Keempat, kurangi membuat proposal atau konsep strategis, cukup bicara ide besar supaya terlihat visioner.

Kelima, segera salahkan junior atau bawahan jika kita tak tahu apapun tentang pekerjaan kita, sehingga kita tak tampak bodoh dan dimaki GM atau Direktur.

Keenam, jangan pernah makan siang di warteg. Panas!!

Ketujuh, selalu tampak sibuk di depan komputer dan perbarui terus statusmu di situs jejaring sosialmu. Supaya tampak sedang menjaring relasi bisnis.

Demikian tips dari saya