Time is

Too slow for those who wait,
Too swift for those who fear,
Too long for those who grieve,
Too short for those who rejoice,
But for those who love,
Time is eternity

– Henry van Dyke –

Advertisements

Ctrl – Alt – Delete

Tiga tombol itu kerap jadi teman paling setia, ketika komputer rakitan zaman jumilah jangkrik di rumahku ngadat berat. Entah karena terlalu sering dipakai bermain game, atau akibat terlalu banyak file XXX, di hard disk nya.

Setiap kali ngadat, beribu cara diupayakan agar komputer itu kembali beroperasi dengan lancar. Tapi tetap saja gagal. Akhirnya senjata pamungkas itu pun dikeluarkan. Ctrl – Alt – Delete. Ya, tiga tombol di keyboard itu pun akhirnya ditekan bersamaan. Komputer itu lalu ter-restart, dan akhirnya kembali beroperasi dengan lancar.

Malam ini, kembali masalah yang sama terjadi pada komputer itu. Kesal rasanya. Pekerjaan yang menunggu diselesaikan jadi tertunda. Makian, umpatan, sumpah serapah dilontarkan dengan bersemangat. Bahkan pukulan pun dilayangkan, dengan harapan si komputer mau berfungsi dengan normal kembali.

Aku menuduh komputer itu bebal dan tak tahu diri. Tak mau mengakui bahwa mungkin saja penyebabnya adalah aneka peranti lunak bajakan atau file-file porno yang aku unduh dari sumber yang tidak aman. Sayang, segala perlakuan buruk itu gagal total. Dan mau tak mau tiga tombol sakti tadi dipilih jadi jalan terakhir. Meskipun resikonya riwayat dokumen yang sedang dikerjakan tamat, dan harus mengulang sedari awal. Ctrl – Alt – Delete.

Sejenak kemudian aku berpikir. Tanpa alasan yang jelas, aku mencoba menganalogikan komputer dengan hidupku, manusia. Proses berpikir manusia, mirip dengan langkah-langkah sebuah komputer mengolah data dan lalu menyajikannya.

Data-data yang rumit dengan parameter tertentu, diolah oleh sebuah prosesor berkecepatan tinggi. Rumit namun terukur.

Ketika data yang dimasukkan terlalu banyak, atau ada penyusup tak dikenal macam virus, bug atau apalah namanya, kinerja computer itu akan menurun drastis. Bahkan tak jarang berhenti total alias hang.

Sama seperti manusia; persoalan-persoalan kerap datang silih berganti. Mulai dari personal internal hingga persoalan eksternal yang entah muncul dari mana, bak virus yang mendadak menjangkiti komputer.

Ketika persoalan itu menumpuk, segala logika dan akan tak mampu bekerja dengan maksimal. Hidup jadi terasa berat, asa lalu pupus. Alih-alih berpikir kreatif, kemarahan seringkali menyeruak di tengah rasa frustasi mencari solusi.

Keangkuhan diri membuat manusia seringkali gagal mengakui kesalahan, dan kelalaian yang mungkin saja menjadi penyebab. Manusia lebih suka memaki, mencari tertuduh.

Mengucapkan, “gara-gara kebodohan kamu, hidup saya jadi susah”, lebih mudah ketimbang mengatakan, “Ternyata kesalahan saya sangat banyak. Maaf.”

Kerap manusia enggan mengambil resiko dengan meretas persoalan. Nyali manusia kadang terlalu kecil untuk memulai segala sesuatu dari awal. Terlalu penakut me-restart diri, agar kehidupan kembali berjalan normal.

Harusnya kita belajar menekan tombol “Ctrl – Alt – Delete” di dalam diri, dengan penuh keberanian dan kerelaan. Untuk kemudian menuliskan kembali kisah hidup, sedari awal.

Kisah yang lebih baik.

Invictus

By William Henley

A poem that inspired Nelson Mandela

Out of the night that covers me,
Black as the Pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.
 
In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbowed.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds, and shall find, me unafraid.

It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll,                                 

I am the master of my fate:
I am the captain of my soul.

We don’t have to fight but we can fight back

Saya sangat tidak menyukai konflik apalagi perkelahian fisik. Saya lebih memilih diam dan menghindar ketika seseorang berteriak penuh sumpah serapah kepada saya.

Saya lebih menyukai bernegosiasi secara damai, ketimbang memaki dengan kata-kata kotor. Lebih baik menjaga kewarasan saya di tempat yang benar, ketimbang meladeni sumpah serapah gila.

Bagi saya lebih penting menunjukkan sisi lembut, ramah dan konyol, ketimbang berusaha terlihat sebagai pria perkasa sangar, pecandu perang dan darah.

Tapi bukan berarti saya tak punya nyali untuk melawan ketika sesorang memaki berlebihan. Saya tak jago berkelahi, tp paling tidak saya hafal titik-titik lemah manusia dan keseimbangan fisik.

Satu hal yang selalu saya ingat, keberanian itu tidak dilihat dari seberapa banyak kata-kata kotor yang diucapkan. Tapi laku dan mentalitas untuk menantang sesuatu yang jauh lebih besar dari kemampuan kita.

Ketika kita terlalu banyak ucapkan makian dan sumpah serapah, suatu saat akan ada seseorang yang membuat kita terdiam dan menyesal

My Sister, Our Love

“Eva Kristy Indahwati”

Kami sekeluarga memanggilnya “Eva”, sementara sahabat-sahabatnya lebih suka memanggil “Kristy”.

Anak tertua di keluarga kami, anak terpintar, sekaligus paling pendiam. Masa kecilnya pahit, sangat pahit. Selalu mengalah demi tiga adiknya. Tapi tak sekalipun ia mengeluh.

Ia hanya diam ketika menanggung beban, lalu menebusnya dengan prestasi gemilang. Selalu menjadi nomor satu di sekolah, lalu lulus kuliah dengan predikat “Cumlaude”.

Benci sayuran dan penggemar mie instan super pedas. Bukan penikmat kopi tapi kerap kepergok menikmati minuman energi berkafein tinggi. “Kafein nya kopi nggak bikin mata melek. Nggak seru ah!” ujarnya kala ditegur.

Kendati sangat jarang marah, namun ia adalah sosok paling disegani di keluarga. Sekali ia beropini, kami pun lalu patuh.

Sikapnya tak berubah walau kini ia telah bersuami dan memiliki seorang anak perempuan yang cantik berusia 5 tahun. Tetap pendiam dan dingin. “Yang paling penting itu tindakan. Cerewet dan kebanyakan gaya nggak akan menyelesaikan persoalan, malah menambah keruwetan,” ujarnya suatu hari.

Sikap diam dan tak pernah mengeluh itu membuat kami tak pernah tahu isi hatinya. Sampai kemudian ia jatuh tak sadarkan diri, pertengahan Januari lalu.

Tak sadarkan diri, lalu koma hingga kini. Kanker ganas stadium lanjut di batang otak, telah merenggut kesadarannya.

Ia tak sempat mengatakan rasa sakitnya. Tak sempat pula ia pamit ke rumah sakit pada suami dan anaknya. Hanya pertanda, berupa kata-kata kepadaku, “Nanti kalau ada apa-apa sama gue, elo jagain ibu dan anak gue ya. Elo kan sekarang dah sendiri” Kata-kata yang aneh di hari Natal 2010.

Mungkin saat itu, ia sudah mendapat firasat akan terjadi sesuatu pada dirinya. Entahlah, yang jelas itu adalah hal terakhir yang ia sampaikan padaku.

Kini kami sekeluarga menanti sebuah keajaiban datang menyembuhkannya. Sangat melelahkan..sangat melelahkan. Tapi kami paham, apapun yang terjadi, meski akan sangat menyakitkan, sangat mendukakan, tetaplah sebuah keajaiban.

Hidupnya sudah menjadi anugerah bagi kami. Sakitnya telah menjadi pengingat bagi kami agar terus saling menjaga, mengasihi dan lebih menghargai hidup.

Karena hidup terlalu berharga untuk disia-siakan. Karena waktu terlalu singkat untuk sekedar diisi kebencian.

“Dear sister, thanks for everything you’ve done for us. We miss you, I miss you. We love you, I love you. Everything will be alright.”

RS Premier Jatinegara, 26 February 2011

9 Chairs (The Beginning*)

Kursi-kursi itu tak berubah, tetap di sana
Rapi berjajar diam dengan formasi yang sama
Inginkan sesorang duduk diatasnya
Sunyi dan sederhana namun pisahkan kita
Tak mau menyingkir demi asa kita
Yang kerap berselisih mata

Nafasku tertahan ingin singkirkan mereka
Enyahkan jarak yang pisahkan kita
Lepaskan diam yang bebankan jiwa
Waktuku tak banyak, kau pun juga
Akankah kita terus diam saja?
Nantikan masa lewat begitu saja?

*The Ghost – Robert Harris

Balada Cinta Sang Penjagal

CINTA sejati takkan pernah mati. Sepenggal syair lagu ‘Cinta Sejati’ lantunan penyanyi Arri Lasso itu begitu pas untuk menggambarkan perasaan Ida Nurhandayani, 22, pada suaminya Suud Rusli, terpidana mati kasus pembunuhan Direktur Utama PT Asaba, Budiarto Angsono.

“Ia cinta pertama saya,” tutur Ida lirih. Di matanya Suud adalah sosok pria terbaik dan terlembut yang pernah dikenalnya.

Ida memang luar biasa. Dengan tubuhnya yang proporsional, wajah mungil berhias alis tipis, menunjukkan pesonanya sebagai sosok perempuan idaman bagi Suud. Lalu dengan nada tertahan, lewat bibir mungilnya, perempuan muda ini menuturkan kisah manis dan getir saat ia bersama mantan kopral dua Marinir itu. Tiga tahun silam, Suud datang ke rumah Ida di Pondok Labu, Jakarta Selatan, untuk mencari rumah kos. “Saat datang, ia tampak begitu gagah dengan baju dinas Marinir,” kenang Ida.

Lalu gadis berkulit bersih itu tergerak hati menolong Suud mencari kos. “Akhirnya kami mendapatkan rumah kos, tepat di belakang rumah saya,” lanjut Ida.

Lantaran bertetangga, Suud sering berkunjung ke rumah Ida. “Ia begitu baik dan perhatian kepada saya,” Ujarnya pelan. Kebaikan dan perhatian dari Suud, lambat laun meluluhkan hatinya. Ia pun jatuh cinta kepada Suud yang lebih tua 14 tahun dari dirinya.

Laiknya sepasang kekasih, keduanya kerap bermalam mingguan. “Biasanya kami makan seafood di Jalan Fatmawati. Mas Suud selalu pesan ikan bakar dan udang saus tiram,” tutur Ida.

Cinta membara di dada Ida semakin menjadi justru saat Suud secara jujur mengaku telah beranak istri. “Ia bilang kalau istrinya membawa anaknya, Arini Sherly Rusli, pergi meninggalkan dirinya. Saya merasa sangat iba mendengarnya,” papar Ida.

Lalu 19 Juli 2003, terjadilah peristiwa yang mengubah hidup Ida selamanya. Suud Rusli dan tiga kawannya menembak mati bos PT Asaba dan seorang anggota Kopasus pengawalnya.

“Saya shock mendengarnya. Saya tidak percaya orang selembut dia tega membunuh orang,” sahut Ida sambil menyibakkan rambut pendeknya.

Atas perbuatannya Suud Rusli pun divonis hukuman mati. Namun, cinta sejati Ida tidak luntur setitik pun, sekalipun keluarganya marah besar dan melarangnya berhubungan lagi dengan Suud. Bahkan, atas nama cinta pula ia menuruti saja ketika Suud menyuruhnya membawakan gergaji besi.

“Mas Suud bilang kalau ia butuh gergaji besi untuk memperbaiki tempat tidurnya di sel,” tuturnya lugu.

Gergaji besi itulah yang dipakai Suud saat pelarian pertamanya 5 Mei 2005 silam. Saat pelarian kedua Suud, 6 November 2005, Ida memutuskan ikut. Ia kabur dari rumah dan pergi bersama Suud ke Subang. Karena cinta yang sangat besar, akhirnya 17 November lalu mereka menikah secara siri di tempat persembunyian mereka di Subang, Jawa Barat.

Bulan madu pun terpaksa mereka nikmati dalam pelarian. Akhirnya 23 November lalu mereka ditangkap aparat saat berada dalam sebuah gubuk di tengah sawah di Subang. Kini Suud Rusli kembali mendekam di Rumah Tahanan Militer (RTM), Cimanggis, Depok, dengan pengamanan yang sangat ketat. Ajalnya pun tak lama lagi. Namun, Ida tetap setia menunggu. Ia mengaku tidak ingin menambatkan hatinya pada pria lain. Sekarang Ida berharap ia diberi kesempatan menemui Suud menjelang eksekusi mati suaminya itu. “Saya ingin mengatakan ke Mas Suud. Saya sangat mencintainya meskipun maut memisahkan kami,” katanya lirih.

*Diambil dari wawancara di tahanan Polda Metro Jaya, 16 Januari 2006